Cincin Api Pasifik atau Lingkaran Api Pasifik (Ring of Fire)

Ekspedisi mengeksplorasi gunung berapi dan lempeng benua di Indonesia, yang terjalin dalam lingkar Cincin Api Pasifik. Bertolak dari Tambora, mengarungi kaldera Toba, mendaki puncak-puncak berapi lainnya yaitu Sinabung dan Sibayak, Krakatau, Agung dan Rinjani, Semeru-Bromo, Merapi-Merbabu, Galunggung, Kerinci-Dempo, Egon-Lawu, hingga Sangihe-Ambon; kemudian menyusuri lempeng benua Sesar Darat Sumatera dan berakhir di Mentawai.

Eksplorasi EKSPEDISI CINCIN API selama 1 tahun penuh, dengan peliputan melalui media cetak, online dan televisi, seutuhnya dipersembahkan kepada insan pembaca dan pemirsa Kompas.

Anda bisa mengikuti perkembangan Ekspedisi Cincin Api Indonesia di situs ini melalui berita, foto, video, komentar dan direktori lokasi yang akan dilakukan tim ekspedisi sepanjang penjelajahan. Selain situs, Anda juga bisa mengikutinya melalui Harian Kompas dan Vod Kompas.

Gunung Tambora 18 Juni - 2 Juli 2011

Gunung di Pulau Sumbawa, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara barat, ini meletus pada April 1815 yang dikenal sebagai "The largest Volcanic Eruption in History" (letusan terbesar yang tercatat dalam sejarah manusia). Lebih dari 71.000 orang meninggal dan terjadi perubahan iklim, sering disebut juga tahun tanpa musim panas.

Gunung Toba, Sibayak, Sinabung, dan tarutung (patahan gempa) September 2011

Gunung-gunung api dan sesar tektonik di Sumatera Utara. Gunung api super-Toba diperkirakan meletus 74.000 tahun yang lalu yang menghasilkan kaldera dan Danau Toba dengan Pulau Saomis di tengah-tengahnya. Letusan ini memicu gelombang tsunami.

Gunung Krakatau Oktober 2011

Gunung Api di Selat Sunda ini meletus dahsyat pada Agustus 1883. Lebih dari 36.000 orang meninggal dan letusan ini memicu gelombang tsunami.

Gunung Agung, Batur, dan Rinjani November 2011

Antara spiritualitas dan rasionalitas. Mencari "folklore" lokal terkait dengan gunung berapi. Di Bali dan Lombok, gunung menjadi pusat orientasi budaya dan agama. bagaimana pengaruhnya terhadap mitigasi bencana?

Jawa Timur: Gunung Semeru, Penaggungan, Bromo, Ijen, dan Kelud  

Berdampingan hidup dengan bencana. Kawah Ijen, zaman dulu telah menjadi sumber belerang dan bahan amunisi. Sebaliknya, kini, Kawah Ijen menyimpan bahaya besar. Bibir kawah yang menyimpan jutaan asam sulfat dikhawatirkan runtuh, dan kebocoran sebenarnya sudah terjadi, menyebabkan peracunan pada tanah pertanian.

Jawa Tengah: Merapi, Merbabu, Lawu, Sindoro, Sumbing, Dieng  

pralaya dan pergeseran peradaban akibat letusan gunung api. Letusan Merapi diperkirakan yang menjadi penyebab bergesernya mataram kuno ke wilayah timur. Merapi juga menjadi contoh ujian nyata manajemen bencana modern berhadapan dengan sikap budaya lokal yang seringkali bertabrakan.

Jawa Barat: Tangkuban Perahu, Salak, Papandayan, Galunggung  

berkah kesuburan tanah parahyangan di balik ancaman bencana. Letusan Salak pernah berdampak besar terhadap Jakarta.

Gunung Kerinci, Dempo, Marapi, Sorik  

Gunung para dewa dan konsepsi kisah orang pendek. Gunung Kerinci adalah juga gunung api tertinggi di Indonesia, yang memiliki keindahan, tetapi juga berpotensi bencana sangat besar.

Gunung Rokatenda, Egon, Lewo Tobi, tsunami di Ende dan Larantuka  

NTT adalah contoh ekstrem kepulauan yang dibentuk oleh jajaran gunung berapi, yang berpengaruh terhadap keringnya geografi di daerah ini. Selain itu, tsunami juga berkali-kali menerjang. bagaimana kearifan lokal masyarakat terhadap bencana ini?

Gunung Sangihe, Ambon, Ibu, Soputan  

Gunung para dewa dan konsepsi kisah orang pendek. Gunung Kerinci adalah juga gunung api tertinggi di Indonesia, yang memiliki keindahan, tetapi juga berpotensi bencana sangat besar.

Sesar darat: Liwa-Padang-Aceh, dan Palu  

Sesar darat Sumatera termasuk yang paling aktif di dunia. Sayangnya, hingga kini belum ada pemetaan bencana. Banyak jalur sesar yang diduga masih dihuni permukiman. Demikian halnya di Palu, juga terjadi hal sama.

Gunung mentawai, Nias, Simeulue  

Pulau-pulau di batas benua. Ketiga pulau ini berada di titik terluar garis benua, yang paling sering dilanda gempa besar dan berpotensi besar tsunami sepanjang sejarah. Masyarakat di sana memiliki kearifan lokal dan budaya yang sangat terkait dengan gempa dan tsunami, tetapi kini banyak yang telah hilang.

Sumber: Litbang Kompas, diolah dari Bakosurtanal, lapan, ESDM, PVMBG, Gis: Rustiono